Kamis, 18 Juni 2015

Ketika Bahasa Asing Perlahan Menggusur Bahasa Pribumi

Warga Bandung (termasuk Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi), khususnya kota Bandung, apakah kalian tidak menyadari dengan apa yang sebenarnya terjadi pada kota kalian?

Kalian harus bangga dengan adanya Walikota Bapak Ridwan Kamil. Tapi, bukan berarti itu hanya tugas Pak Ridwan dan segenap pengurusnya saja dalam mengurus kota tercinta ini. Jangan sampai kita lengah dengan kenikmatan yang diberikan Allah.

Saya, meskipun asli orang Cianjur, merasa memiliki pula dengan kota Bandung, karena sekarang saya hidup di kota ini sejak SD.

Ada hal yang membuat saya merasa tidak nyaman dengan kota ini. Bukan masalah sampah, atau kemacetan lalu lintas, tapi masalah budaya.

Kota Bandung terletak di tatar Priangan yang merupakan daerahnya kebudayaan Sunda. Dan Bandung ini disepakati sebagai pusatnya kebudayaan Sunda.

Tapi, saya lihat, dari waktu ke waktu, semakin banyak berdiri tempat-tempat seperti restoran, hotel, wisata alam, dan objek wisata lainnya yang memakai nama selain bahasa Indonesia atau bahasa daerah lainnya. Seperti Floating Market Lembang, D’Ranch, Pasar Baru Trade Center, Bandung Electronic Center, dll. Memang masih ada yang menggunakan bahasa lokal, seperti Tebing Keraton, Punclut, Bukit Bintang Dago, dll; tapi itu tidak seberapa jumlahnya dibanding yang menggunakan bahasa asing. Mungkin lama-kelamaan bahasa Indonesia dan daerah akan punah karena digusur bahasa asing.

Sudah sepantasnya menghargai budaya yang ada. Karena Bandung berada di wilayah kebudayaan Sunda, maka gunakanlah nama-nama Sunda, atau setidaknya bahasa Indonesia. Untuk nama-nama dari daerah lain yang masih sesama Indonesia, bisa dimaklumi, tapi disarankan ada keterangan bahasa Indonesia nya supaya dapat dimengerti oleh orang yang tidak mengerti bahasa daerah tersebut. Nama-nama Sunda pun sama, disarankan ada keterangan bahasa Indonesianya.

Jika kebudayaan setiap daerah yang ada di Indonesia mengalami pengikisan, maka bukan tidak mungkin keutuhan negara ini terancam. Karena kita harus ingat bahwa fondasi utama negara Republik Indonesia ini berdiri, adalah karena persatuan keberagaman etnis-etnisnya. Bhinneka Tunggal Ika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar