Senin, 15 Juni 2015

Meluruskan Kesalahpahaman Kenapa Orang Sunda Tidak Mau Disebut Orang Jawa

Indonesia, di bagian barat pulau Jawa, ada 3 suku bangsa yang diakui eksistensinya secara de-jure, yaitu suku Sunda yang berasal dari provinsi Banten dan Jawa Barat, Melayu Betawi yang berasal dari DKI Jakarta, dan Cirebon yang berasal dari wilayah pantai timur laut provinsi Jawa Barat.

Sedangkan secara de-facto nya, di provinsi Jawa Barat tentu saja terdapat lebih dari 3 suku pribumi tersebut di atas. Ada yang menetap permanen, ada pula yang sementara. Semuanya tergabung dalam satu kewarganegaraan Indonesia, disamping kewarganegaraan asing.

Mungkin ada orang yang bertanya-tanya, atau bahkan kesal, kenapa orang Sunda tidak mau disebut orang Jawa, padahal sama-sama tinggal di/berasal dari pulau Jawa?

Kalau begitu, suruh saja orang-orang Sunda itu keluar dari pulau Jawa kalau tidak mau disebut orang Jawa?

Perlu diketahui, bahwa menurut kebanyakan orang Sunda, kalimat “orang Jawa” memiliki arti yang berbeda. Dimana “orang Jawa” merujuk kepada suku, yaitu suku Jawa. Jadi kalau mau merujuk kepada tempat, tambahkanlah kata ‘pulau’ di tengahnya, sehingga kalimatnya menjadi “orang pulau Jawa”.

Karena itu pula banyak orang Sunda yang suka bertanya kepada orang Jawa dengan kalimat “Mas/mbak, mau pulang ke Jawa ya?”, atau “Mas/mbak, dari Jawa nya sebelah mana?”. Mungkin terdengar aneh bagi yang baru mendengar kalimat tersebut. Tapi biasanya itu diucapkan oleh orang-orang Sunda generasi kelahiran sebelum tahun 90-an. Sekarang biasanya lebih ke nama kota, seperti Jogja, Solo, Malang, Surabaya, dll.

Orang Sunda tidak mau disebut orang Jawa, karena jelas suku Sunda bukanlah suku Jawa, karena memiliki bahasa dan kebudayaan yang berbeda, meskipun ada kesamaan dan kemiripan diantara keduanya. Dan dari segi administratif pun, melihat dari sejarah kerajaannya, suku Sunda memiliki pemerintahan sendiri yang terpisah dari suku Jawa.

Kemudian, orang Sunda juga tidak mau disebut dengan panggilan bahasa Jawa seperti Mbak/Mbakyu dan Mas. Kenapa? Karena bahasa Sunda pun memiliki panggilannya tersendiri, yaitu Aa untuk laki-laki (biasanya untuk yang berusia lebih tua); Akang untuk laki-laki semua usia; Teteh untuk perempuan (biasanya untuk yang berusia lebih tua); Neng/Nyai untuk perempuan semua usia; Abah/Bapak untuk ayah/bapak-bapak; Emak/Ibu/Mamah untuk ibu/ibu-ibu; dan Emak untuk nenek/nenek-nenek.

Jujur, terkadang saya sendiri suka kesal kalau dipanggil ‘mas’ atau ada yang memanggil ‘mbak’ di Tatar Sunda ini, khususnya kepada orang suku Sunda. Bukankah setiap daerah memiliki bahasa dan budayanya masing-masing?

Tapi itu tidak masalah jika yang dipanggilnya adalah sesama sukunya sendiri, yang saling kenal, atau memang menerima dipanggil seperti itu.

Saya adalah seorang keturunan campuran dari Betawi (ibu) dan Sunda (ayah), tulisan ini bukanlah karena saya benci terhadap suku Jawa atau suku lainnya, dan tentunya bukanlah SARA. Tapi ini demi terjaganya budaya yang ada di Indonesia, dan juga keutuhan negara Indonesia sendiri, disamping meluruskan kesalahpahaman. Negara kita bukanlah negara homogen yang hanya terdiri dari satu macam etnis saja, dan negara ini bukanlah milik satu etnis saja, tapi negara ini berdiri karena keragaman etnis, dari Sabang sampai Merauke.

Tentu saja, saya sendiri tidak keberatan kalau ketika ke Jawa Tengah/Jawa Timur dipanggil mas, atau ke Sumatera Barat dipanggil uda, dan daerah yang lainnya; saya pun menyarankan dengan sangat kepada sesama suku Sunda atau Betawi yang akan bepergian keluar, agar memegang prinsip “Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung”, dan juga agar mempelajari dahulu tempat/wilayah/daerah yang akan dikunjungi (kalau belum tahu), supaya terjadi keharmonisan diantara masyarakat kita.

Hmmm... oh iya satu lagi, terkadang ada pula orang yang mengatakan, “Alah... orang Sunda juga tidak menghargai budayanya sendiri, bahasa sendiri saja tidak tahu, malah orang dari suku anu lebih jago bahasa Sunda ketimbang orang Sunda nya sendiri, ngapain kita ngehargai mereka?”

Atau, “Wah wah wah, ternyata suku kita lebih baik dari mereka ya? Coba lihat, kita masih tahu kebudayaan dan bahasa kita, tapi mereka tidak tahu bahasa dan budaya mereka sendiri, malahan kita yang tahu.”

Tolonglah jangan berkata seperti itu. Disini saya tidak bermaksud hanya membela suku saya sendiri saja, tapi ini juga untuk kita semua sebagai warga negara Indonesia.

Memang saya akui saya pun masih belum tahu banyak tentang suku saya sendiri, begitupun orang-orang yang sesama suku saya sendiri. Tapi, semua orang di dunia ini pun ada yang seperti itu kan? Begitu banyak faktor penyebabnya.

Kalau masalah bahasa, tak masalah tidak menggunakan bahasa Sunda juga, kan ada bahasa Indonesia, bahasa kebanggaan kita. Hanya saja sudah sepatutnya kita mengetahui bahasa suku kita sendiri. Kemudian orang selain suku saya pun tidak ada larangan untuk “menjadi orang Sunda/Betawi” dengan mempelajari/menguasai bahasa dan kebudayaannya, tidak diharamkan kan? Hehe... asal jangan berniat untuk hal-hal yang tidak baik saja.

Berbeda-beda tetapi tetap satu, oke!

Mohon maaf apabila ada kesalahan penulisan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar