Senin, 20 Juli 2015

Masalah Developer Properti

Ini janggal, dan ini seharusnya tidak pantas untuk dilakukan. Para developer (pengembang) properti, khususnya perumahan, seharusnya tidak hanya memikirkan bisnisnya saja. Mereka membangun secara membabi buta; dimana ada lahan kosong, mereka bangun. Dari yang saya perhatikan sekarang ini, mereka sudah berlebihan dalam berbisnis. Bukan hanya itu, terkadang ada pula bangunan yang didirikan secara asal-asalan; seperti dindingnya mudah sekali retak, catnya mudah luntur, hingga lantainya cepat retak karena kualitas keramik yang buruk atau tanahnya yang belum rata.

Tentang lahan kosong, ini penting sekali, karena disini lahan kosong tersebut biasanya adalah daerah resapan air, atau lahan hijau/terbuka. Tak masalah kalau lahan kosong tersebut bukan daerah resapan air atau lahan hijau/terbuka. Bagaimana kedepannya kalau lahan yang menjadi daerah resapan air tersebut didirikan bangunan diatasnya? Apakah setiap saat musim hujan? Musim hujan pun tidak menjamin ketersediaan air.

Pihak-pihak developer seakan pura-pura tidak mengetahui hal ini, malah suka menyalahkan pihak lain jika ada masalah-masalah yang diakibatkan oleh kurangnya daerah resapan air, seperti kekeringan, banjir, gersang, dan lain-lainnya.

Memang mereka pun mencari rezeki, tapi janganlah merugikan orang lain, apalagi ini merugikan orang banyak. Ini seperti pengrusakan lingkungan secara halus; membangun rumah kelihatannya bagus, tapi realitanya sekarang ini para pihak pembangun tersebut tidak memperhatikan lingkungan. Terkadang ketika mereka ditegur, mereka membela diri dengan alasan mencari rezeki, kemudian balik menegur si penegur kalau mereka menghalang-halangi orang yang mau mencari rezeki.

Memang tidak semua developer jahat, tapi kebanyakan dari mereka jahat. Malah mereka seperti para penjajah yang menjajah secara halus, tapi akibatnya nanti sangat fatal. Jahat sekali mereka.

Kalau sudah begini, bisa-bisa masyarakat lah yang turun langsung untuk mengatasi masalah ini. Karena bagaimanapun juga, mereka para developer jahat, akan terungkap kejahatannya.

Kamis, 18 Juni 2015

Ketika Bahasa Asing Perlahan Menggusur Bahasa Pribumi

Warga Bandung (termasuk Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi), khususnya kota Bandung, apakah kalian tidak menyadari dengan apa yang sebenarnya terjadi pada kota kalian?

Kalian harus bangga dengan adanya Walikota Bapak Ridwan Kamil. Tapi, bukan berarti itu hanya tugas Pak Ridwan dan segenap pengurusnya saja dalam mengurus kota tercinta ini. Jangan sampai kita lengah dengan kenikmatan yang diberikan Allah.

Saya, meskipun asli orang Cianjur, merasa memiliki pula dengan kota Bandung, karena sekarang saya hidup di kota ini sejak SD.

Ada hal yang membuat saya merasa tidak nyaman dengan kota ini. Bukan masalah sampah, atau kemacetan lalu lintas, tapi masalah budaya.

Kota Bandung terletak di tatar Priangan yang merupakan daerahnya kebudayaan Sunda. Dan Bandung ini disepakati sebagai pusatnya kebudayaan Sunda.

Tapi, saya lihat, dari waktu ke waktu, semakin banyak berdiri tempat-tempat seperti restoran, hotel, wisata alam, dan objek wisata lainnya yang memakai nama selain bahasa Indonesia atau bahasa daerah lainnya. Seperti Floating Market Lembang, D’Ranch, Pasar Baru Trade Center, Bandung Electronic Center, dll. Memang masih ada yang menggunakan bahasa lokal, seperti Tebing Keraton, Punclut, Bukit Bintang Dago, dll; tapi itu tidak seberapa jumlahnya dibanding yang menggunakan bahasa asing. Mungkin lama-kelamaan bahasa Indonesia dan daerah akan punah karena digusur bahasa asing.

Sudah sepantasnya menghargai budaya yang ada. Karena Bandung berada di wilayah kebudayaan Sunda, maka gunakanlah nama-nama Sunda, atau setidaknya bahasa Indonesia. Untuk nama-nama dari daerah lain yang masih sesama Indonesia, bisa dimaklumi, tapi disarankan ada keterangan bahasa Indonesia nya supaya dapat dimengerti oleh orang yang tidak mengerti bahasa daerah tersebut. Nama-nama Sunda pun sama, disarankan ada keterangan bahasa Indonesianya.

Jika kebudayaan setiap daerah yang ada di Indonesia mengalami pengikisan, maka bukan tidak mungkin keutuhan negara ini terancam. Karena kita harus ingat bahwa fondasi utama negara Republik Indonesia ini berdiri, adalah karena persatuan keberagaman etnis-etnisnya. Bhinneka Tunggal Ika.

Senin, 15 Juni 2015

Meluruskan Kesalahpahaman Kenapa Orang Sunda Tidak Mau Disebut Orang Jawa

Indonesia, di bagian barat pulau Jawa, ada 3 suku bangsa yang diakui eksistensinya secara de-jure, yaitu suku Sunda yang berasal dari provinsi Banten dan Jawa Barat, Melayu Betawi yang berasal dari DKI Jakarta, dan Cirebon yang berasal dari wilayah pantai timur laut provinsi Jawa Barat.

Sedangkan secara de-facto nya, di provinsi Jawa Barat tentu saja terdapat lebih dari 3 suku pribumi tersebut di atas. Ada yang menetap permanen, ada pula yang sementara. Semuanya tergabung dalam satu kewarganegaraan Indonesia, disamping kewarganegaraan asing.

Mungkin ada orang yang bertanya-tanya, atau bahkan kesal, kenapa orang Sunda tidak mau disebut orang Jawa, padahal sama-sama tinggal di/berasal dari pulau Jawa?

Kalau begitu, suruh saja orang-orang Sunda itu keluar dari pulau Jawa kalau tidak mau disebut orang Jawa?

Perlu diketahui, bahwa menurut kebanyakan orang Sunda, kalimat “orang Jawa” memiliki arti yang berbeda. Dimana “orang Jawa” merujuk kepada suku, yaitu suku Jawa. Jadi kalau mau merujuk kepada tempat, tambahkanlah kata ‘pulau’ di tengahnya, sehingga kalimatnya menjadi “orang pulau Jawa”.

Karena itu pula banyak orang Sunda yang suka bertanya kepada orang Jawa dengan kalimat “Mas/mbak, mau pulang ke Jawa ya?”, atau “Mas/mbak, dari Jawa nya sebelah mana?”. Mungkin terdengar aneh bagi yang baru mendengar kalimat tersebut. Tapi biasanya itu diucapkan oleh orang-orang Sunda generasi kelahiran sebelum tahun 90-an. Sekarang biasanya lebih ke nama kota, seperti Jogja, Solo, Malang, Surabaya, dll.

Orang Sunda tidak mau disebut orang Jawa, karena jelas suku Sunda bukanlah suku Jawa, karena memiliki bahasa dan kebudayaan yang berbeda, meskipun ada kesamaan dan kemiripan diantara keduanya. Dan dari segi administratif pun, melihat dari sejarah kerajaannya, suku Sunda memiliki pemerintahan sendiri yang terpisah dari suku Jawa.

Kemudian, orang Sunda juga tidak mau disebut dengan panggilan bahasa Jawa seperti Mbak/Mbakyu dan Mas. Kenapa? Karena bahasa Sunda pun memiliki panggilannya tersendiri, yaitu Aa untuk laki-laki (biasanya untuk yang berusia lebih tua); Akang untuk laki-laki semua usia; Teteh untuk perempuan (biasanya untuk yang berusia lebih tua); Neng/Nyai untuk perempuan semua usia; Abah/Bapak untuk ayah/bapak-bapak; Emak/Ibu/Mamah untuk ibu/ibu-ibu; dan Emak untuk nenek/nenek-nenek.

Jujur, terkadang saya sendiri suka kesal kalau dipanggil ‘mas’ atau ada yang memanggil ‘mbak’ di Tatar Sunda ini, khususnya kepada orang suku Sunda. Bukankah setiap daerah memiliki bahasa dan budayanya masing-masing?

Tapi itu tidak masalah jika yang dipanggilnya adalah sesama sukunya sendiri, yang saling kenal, atau memang menerima dipanggil seperti itu.

Saya adalah seorang keturunan campuran dari Betawi (ibu) dan Sunda (ayah), tulisan ini bukanlah karena saya benci terhadap suku Jawa atau suku lainnya, dan tentunya bukanlah SARA. Tapi ini demi terjaganya budaya yang ada di Indonesia, dan juga keutuhan negara Indonesia sendiri, disamping meluruskan kesalahpahaman. Negara kita bukanlah negara homogen yang hanya terdiri dari satu macam etnis saja, dan negara ini bukanlah milik satu etnis saja, tapi negara ini berdiri karena keragaman etnis, dari Sabang sampai Merauke.

Tentu saja, saya sendiri tidak keberatan kalau ketika ke Jawa Tengah/Jawa Timur dipanggil mas, atau ke Sumatera Barat dipanggil uda, dan daerah yang lainnya; saya pun menyarankan dengan sangat kepada sesama suku Sunda atau Betawi yang akan bepergian keluar, agar memegang prinsip “Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung”, dan juga agar mempelajari dahulu tempat/wilayah/daerah yang akan dikunjungi (kalau belum tahu), supaya terjadi keharmonisan diantara masyarakat kita.

Hmmm... oh iya satu lagi, terkadang ada pula orang yang mengatakan, “Alah... orang Sunda juga tidak menghargai budayanya sendiri, bahasa sendiri saja tidak tahu, malah orang dari suku anu lebih jago bahasa Sunda ketimbang orang Sunda nya sendiri, ngapain kita ngehargai mereka?”

Atau, “Wah wah wah, ternyata suku kita lebih baik dari mereka ya? Coba lihat, kita masih tahu kebudayaan dan bahasa kita, tapi mereka tidak tahu bahasa dan budaya mereka sendiri, malahan kita yang tahu.”

Tolonglah jangan berkata seperti itu. Disini saya tidak bermaksud hanya membela suku saya sendiri saja, tapi ini juga untuk kita semua sebagai warga negara Indonesia.

Memang saya akui saya pun masih belum tahu banyak tentang suku saya sendiri, begitupun orang-orang yang sesama suku saya sendiri. Tapi, semua orang di dunia ini pun ada yang seperti itu kan? Begitu banyak faktor penyebabnya.

Kalau masalah bahasa, tak masalah tidak menggunakan bahasa Sunda juga, kan ada bahasa Indonesia, bahasa kebanggaan kita. Hanya saja sudah sepatutnya kita mengetahui bahasa suku kita sendiri. Kemudian orang selain suku saya pun tidak ada larangan untuk “menjadi orang Sunda/Betawi” dengan mempelajari/menguasai bahasa dan kebudayaannya, tidak diharamkan kan? Hehe... asal jangan berniat untuk hal-hal yang tidak baik saja.

Berbeda-beda tetapi tetap satu, oke!

Mohon maaf apabila ada kesalahan penulisan.