Indonesia, di bagian barat pulau Jawa,
ada 3 suku bangsa yang diakui eksistensinya secara de-jure, yaitu suku
Sunda yang berasal dari provinsi Banten dan Jawa Barat, Melayu Betawi yang berasal
dari DKI Jakarta, dan Cirebon yang berasal dari wilayah pantai timur laut
provinsi Jawa Barat.
Sedangkan secara de-facto nya, di
provinsi Jawa Barat tentu saja terdapat lebih dari 3 suku pribumi tersebut di
atas. Ada yang menetap permanen, ada pula yang sementara. Semuanya tergabung
dalam satu kewarganegaraan Indonesia, disamping kewarganegaraan asing.
Mungkin ada orang yang bertanya-tanya,
atau bahkan kesal, kenapa orang Sunda tidak mau disebut orang Jawa, padahal
sama-sama tinggal di/berasal dari pulau Jawa?
Kalau begitu, suruh saja orang-orang
Sunda itu keluar dari pulau Jawa kalau tidak mau disebut orang Jawa?
Perlu diketahui, bahwa menurut
kebanyakan orang Sunda, kalimat “orang Jawa” memiliki arti yang berbeda. Dimana
“orang Jawa” merujuk kepada suku, yaitu suku Jawa. Jadi kalau mau merujuk
kepada tempat, tambahkanlah kata ‘pulau’ di tengahnya, sehingga kalimatnya
menjadi “orang pulau Jawa”.
Karena itu pula banyak orang Sunda yang
suka bertanya kepada orang Jawa dengan kalimat “Mas/mbak, mau pulang ke Jawa
ya?”, atau “Mas/mbak, dari Jawa nya sebelah mana?”. Mungkin terdengar aneh bagi
yang baru mendengar kalimat tersebut. Tapi biasanya itu diucapkan oleh
orang-orang Sunda generasi kelahiran sebelum tahun 90-an. Sekarang biasanya
lebih ke nama kota, seperti Jogja, Solo, Malang, Surabaya, dll.
Orang Sunda tidak mau disebut orang
Jawa, karena jelas suku Sunda bukanlah suku Jawa, karena memiliki bahasa dan
kebudayaan yang berbeda, meskipun ada kesamaan dan kemiripan diantara keduanya.
Dan dari segi administratif pun, melihat dari sejarah kerajaannya, suku Sunda
memiliki pemerintahan sendiri yang terpisah dari suku Jawa.
Kemudian, orang Sunda juga tidak mau
disebut dengan panggilan bahasa Jawa seperti Mbak/Mbakyu dan Mas. Kenapa?
Karena bahasa Sunda pun memiliki panggilannya tersendiri, yaitu Aa untuk
laki-laki (biasanya untuk yang berusia lebih tua); Akang untuk laki-laki semua
usia; Teteh untuk perempuan (biasanya untuk yang berusia lebih tua); Neng/Nyai
untuk perempuan semua usia; Abah/Bapak untuk ayah/bapak-bapak; Emak/Ibu/Mamah
untuk ibu/ibu-ibu; dan Emak untuk nenek/nenek-nenek.
Jujur, terkadang saya sendiri suka kesal
kalau dipanggil ‘mas’ atau ada yang memanggil ‘mbak’ di Tatar Sunda ini,
khususnya kepada orang suku Sunda. Bukankah setiap daerah memiliki bahasa dan
budayanya masing-masing?
Tapi itu tidak masalah jika yang dipanggilnya
adalah sesama sukunya sendiri, yang saling kenal, atau memang menerima
dipanggil seperti itu.
Saya adalah seorang keturunan campuran
dari Betawi (ibu) dan Sunda (ayah), tulisan ini bukanlah karena saya benci
terhadap suku Jawa atau suku lainnya, dan tentunya bukanlah SARA. Tapi ini demi
terjaganya budaya yang ada di Indonesia, dan juga keutuhan negara Indonesia
sendiri, disamping meluruskan kesalahpahaman. Negara kita bukanlah negara homogen
yang hanya terdiri dari satu macam etnis saja, dan negara ini bukanlah milik
satu etnis saja, tapi negara ini berdiri karena keragaman etnis, dari Sabang
sampai Merauke.
Tentu saja, saya sendiri tidak keberatan
kalau ketika ke Jawa Tengah/Jawa Timur dipanggil mas, atau ke Sumatera Barat
dipanggil uda, dan daerah yang lainnya; saya pun menyarankan dengan sangat
kepada sesama suku Sunda atau Betawi yang akan bepergian keluar, agar memegang
prinsip “Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung”, dan juga agar
mempelajari dahulu tempat/wilayah/daerah yang akan dikunjungi (kalau belum
tahu), supaya terjadi keharmonisan diantara masyarakat kita.
Hmmm... oh iya satu lagi, terkadang ada
pula orang yang mengatakan, “Alah... orang Sunda juga tidak menghargai budayanya
sendiri, bahasa sendiri saja tidak tahu, malah orang dari suku anu lebih jago
bahasa Sunda ketimbang orang Sunda nya sendiri, ngapain kita ngehargai mereka?”
Atau, “Wah wah wah, ternyata suku kita
lebih baik dari mereka ya? Coba lihat, kita masih tahu kebudayaan dan bahasa
kita, tapi mereka tidak tahu bahasa dan budaya mereka sendiri, malahan kita
yang tahu.”
Tolonglah jangan berkata seperti itu. Disini
saya tidak bermaksud hanya membela suku saya sendiri saja, tapi ini juga untuk
kita semua sebagai warga negara Indonesia.
Memang saya akui saya pun masih belum
tahu banyak tentang suku saya sendiri, begitupun orang-orang yang sesama suku
saya sendiri. Tapi, semua orang di dunia ini pun ada yang seperti itu kan?
Begitu banyak faktor penyebabnya.
Kalau masalah bahasa, tak masalah tidak
menggunakan bahasa Sunda juga, kan ada bahasa Indonesia, bahasa kebanggaan kita.
Hanya saja sudah sepatutnya kita mengetahui bahasa suku kita sendiri. Kemudian
orang selain suku saya pun tidak ada larangan untuk “menjadi orang
Sunda/Betawi” dengan mempelajari/menguasai bahasa dan kebudayaannya, tidak
diharamkan kan? Hehe... asal jangan berniat untuk hal-hal yang tidak baik saja.
Berbeda-beda tetapi tetap satu, oke!
Mohon maaf apabila ada kesalahan
penulisan.